Close

March 23, 2021

Peran Strategis geology engineer untuk “Sustainable Infrastructure Development” Di Provinsi Riau

Laporan Humas – yang ditaja Program Studi Teknik Geologi untuk kali pertama pada Sabtu 28 November; pertengahan semester gasal T.A 2020/2021, menyoroti permasalahan geologi dan problematika kegagalan infrastruktur terhadap prediksi efek likuifaksi di Provinsi Riau. Kegiatan ini sekaligus dimaksudkan untuk mengedukasi seluruh masyarakat pemerentahan terkait, sebagai penanggungjawab utama untuk meletakkan dan mempertimbangkan syarat investigasi dari ahli geologi sebelum realisasi pembangunan infrastruktur dapat diimplementasikan pada tingkat lapangan, dengan begitu efisieansi dan efektifitas pembangunan berkelanjutan di Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian di Asia Tenggara dapat di maintance dengan lebih baik.
Kegiatan ini diikuti oleh 240-an peserta menggunakan sistim daring yang di hadiri dari berbagai kalangan; seperti komunitas Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Mahasiswa, Alumni serta masyarakat umum . Sedangkan sebagai narasumber berasal dari spesial kepakaran, kami hadirkan pakar sekaligus ketua penelitian bidang geodinamik dan sedimentologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Prof. Ir. Benyamin Sapiie, Ph.D. Selanjutnya kami juga hadirkan pakar bidang konstruksi jalan layang dan transportasi dan sekaligus Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia/HAKI Provinsi Riau, Prof. Dr. Ir H Sugeng Wiyono, MMT, PA, A-Utama. Ujar Ketua Program Studi Teknik Geologi saat memimpin pembukaan acara sesi inti yang dilanjutkan diskusi tanya jawab secara aktif selama kurang lebih 60 menit. Kedua spesial kepakaran memang secara sengaja kami hadirkan pada sesi webinar perdana setelah adanya covid-19 yang berkembang di Provinsi Riau , dan merupakan wujud kegelisahan civitas akademika Program Teknik Geologi, melihat kasus kegagalan infrastuktur yang masih banyak terjadi.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan Rektor Universitas Islam Riau, Prof. Dr.H. Syafrinaldi.,S.H. M.C.L “ paling tidak dari kacamata saya sebagai orang hukum, dari banyaknya kegagalan infrastruktur yang terjadi di Provinsi Riau, apakah ini berasal dari permasalahan geologi atau lainnya” kutipan sambutan Rektor-UIR. Sambutan dilanjutkan oleh Kabid Geologi dan Air Tanah ESDM Provinsi Riau, Ir. M. Ridwan Dermawan. “peran geologis sangat strategis dan menjadi kunci pembangunan infrastruktur serta menjadi prioritas pemerentah”. Peran geologis menjadi sangat strategis karena menentukan keselamatan dan kesejahteraan sehingga diperlukan komunikasi untuk menentukan kajian resiko pembangunan Provinsi Riau yang berkelanjutan. Sambutan penutup di sampaikan oleh Dekan Fakultas Tekni, Dr. Eng. Muslim, MT.

Kerangka tektonik Provinsi Riau terletak dibagian belakang busur kepulauan,lebih aktif didefinisikan sebagai active continental margin basin yang memiliki surfacial rendah dan relative stabil serta ditutupi sedimen bersifat alluvium dan mud. Alluvium merupakan endapan bersifat urai masa kini dari hasil disintergrasi berbagai tubuh batuan yang lebih dahulu terbentuk berukuran antara 0.0039 – 2 mm , sedangkan mud merupakan matrial bersifat plastis berukuran sangat halus berukuran ≤0.0039 mm. Secara umum lapisan dasar Provinsi Riau juga disusun dari endapan bahan gambut organik mulai dari tebal sampai sangat tebal.

Selanjutnya melalui proyeksi pemodelan geologi bawah permukaan, Provinsi Riau memiliki kompleksitas sesar permukaan yang berhubungan dengan generetisasi strike-slip sesar Semangko yang berpotensi sebagai jalur utama ke-gempaan pada skala magnitude 7 – 8 sr . Fenomena gempa berkekuatan 5,3 sr pada kedalaman 228 Km yang pernah terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, membuktikan adanya transformasi gaya tereduksi melalui sifat batuan. “Namun demikian efek utama dari gempa seperti Mega Thrust memiliki potensi yang lebih kecil, sebaliknya kemungkinan besarnya berasal dari efek likuifaksi yang menyebabkan ketidakstabilan konstruksi”. ujar Prof. Ir. Benyamin Sapiie,Ph.D.

Kasus ketidakstabilan konstruksi akibat subsidence/penurunan dasar lapisan tanah pada area yang terbatas menjadi satu permasalahan paling dominan pada tahap implementasi dilapangan. Adapun berbagai pilihan alternative dilapangan dapat menjadi pilihan yang tidak hanya mempertimbangkan biaya yang mungkin dapat atau setidaknya cukup atau bahkan “paling tepat” diambil dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan daya dukung infrastruktur sehingga efisiensi dari sisi biaya dan umur lebih dapat dimaksimalkan.

Menurut pemaparan Prof. Dr. Ir H Sugeng Wiyono, MMT, PA, A-Utama “Penurunan dasar lapisan tanah dapat disebabkan dari efek berat beban infrastruktur sekaligus konsolidasi antar butir mulai dari hitungan cm sampai lebih dari 1 meter, selanjutnya penurunan lapisan tanah akan lebih aktif lagi ketika daya dukung tiang pancang kehilangan negative skin friction yang mengakibatkan lapisan tanah dapat kehilangan nilai friction”. Kehilangan nilai friction diartikan sebagai mengecilnya ronga pori lapisan tanah karena bersifat lunak.

Kesalahan yang mungkin disebabkan human error dapat saja terjadi, namun demikian kesalahan yang disebabkan akibat kurangnya comparative method menjadi kesalahan fatal yang sifatnya lebih tidak terpredikasi, sebagai contoh penilaian terhadap sifat ketehnikan tanah dapat saja menggunakan pendekatan standart penetration test. Implementasi dilapangan, penilaian yang dilakukan secara ilmiah dari metode tunggal dapat berakhir pada kegagalan infrastruktur pada waktu tertentu. Kenyataan ini, memberikan pelajaran tentang bagaimana peran ahli geologi dibutuhkan untuk memberikan gambaran kondisi lapisan tanah secara lebih luas melalui metode geofisika dan seismik seperti pemetaan sesar aktif (blindfault) dengan metoda paleoseismologi. Kesimpulan akhir dari kedua spesial kepakaran menginginkan adanya kerjasama dari berbagai ahli disiplin ilmu sehingga kegagalan infrasturktur dapat di tanggani dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

id_IDIndonesian